\

Kilas Balik Cikokol: Jembatan Pelengkung Jadi Saksi Kemajuan Kota Tangerang

Wilayah Cikokol kini dikenal sebagai jantung ekonomi dan gerbang utama Kota Tangerang. Namun, di balik deretan gedung tinggi dan pusat perbelanjaan modern, tersimpan narasi sejarah yang unik.


Melalui buku bertajuk "Melacak Asal Muasal Kampung di Kota Tangerang" karya Burhanudin, terungkap bahwa identitas Cikokol berakar dari sebuah alat komunikasi tradisional yang bersahaja.


Dalam catatan Burhanudin, nama Cikokol merupakan perpaduan antara kearifan lokal dan fenomena alam. Nama ini berasal dari kata "Ci" yang berarti air dalam bahasa Sunda, dan "Kohkol" yang berarti kentongan atau trontong.


Konon, pada masa kolonial Belanda, terdapat sebuah gardu di wilayah ini yang menyimpan kentongan kayu sebagai alat komunikasi. Karena gardu tersebut sering terkena air hujan, kentongan di dalamnya selalu basah dan mengeluarkan air.


"Fenomena kentongan yang mengeluarkan air inilah yang kemudian melahirkan nama Cikokol, sebuah identitas yang bertahan melintasi zaman," terangnya.


Salah satu ikon yang paling mencolok di wilayah ini adalah Jembatan Pelengkung Tangerang yang membelah Jalan MH. Thamrin. Berdasarkan data teknis, jembatan baja sepanjang 65 meter dengan berat 32 ton ini bukan sekadar jembatan penyeberangan orang (JPO).


"Jembatan ini berfungsi sebagai gerbang 'Selamat Datang' bagi siapa pun yang memasuki Kota Tangerang dari arah tenggara," tulis Burhanudin.


Catatan dalam buku tersebut juga menyoroti momentum krusial pada 15 Oktober 2007. Hari itu merupakan momen terakhir beroperasinya Pasar Cikokol sebelum direlokasi oleh Pemerintah Kota Tangerang.


"Tanggal 15 Oktober 2007 menjadi hari terakhir keberadaan Pasar Cikokol yang sudah bertahan bertahun-tahun. Kini pasar Cikokol telah berubah menjadi salah satu mal terbesar di Tangerang, TangCity Mal," pungkasnya.


Sementara itu, fungsi transportasi dialihkan ke Terminal Poris Plawad, dan lahan bekas terminal kini menjadi ruang terbuka hijau berupa taman kota.


"Cikokol adalah bukti nyata bagaimana sebuah kampung yang bermula dari bunyi kentongan kayu, kini telah tumbuh menjadi mercusuar kemajuan bagi Kota Tangerang," tutupnya.


Sumber : https://tangerangkota.go.id